Friday, January 6, 2012

Apa Itu Business Model?

Pada tulisan saya sebelum ini, sebagai langkah pertama disarankan untuk membuat business model yang berisi asumsi-asumsi/hipotesa-hipotesa tentang usaha baru saya. Karena masih perkiraan, maka tip-tiap asumsi/hipotesa ini nantinya harus diuji kebenarannya dimana pemahaman baru dari hasil pengujian tersbeut kemudian menjadi masukan untuk memperbaiki business model tersebut. Nah business model itu sendiri apa dulu dan apa isinya?

Menurut saya, penjelasan yang sangat bagus dan sangat praktis tentang business model ditulis oleh Alexander Osterwalder dalam bukunya Business Model Generation; dan penjelasan saya berikut ini akan berdasarkan pemahaman saya atas isi buku tersebut.

Business model pada dasarnya merupakan rasional yang menjelaskan bagaimana suatu organisasi menciptakan, memberikan, dan menangkap suatu nilai tambah (=value). Perhatikan disini business model bukan hanya untuk suatu usaha komersial tetapi untuk organisasi secara umum! Organisasi itu bisa saja suatu usaha komersial, sekolah, instansi pemerintah, yayasan, dan lain-lain. Juga perhatikan disini penekanan akan aspek nilai tambah! Jadi bukan barang yang dihasilkan atau jasa yang bakal diberikan tetapi apa sumbangsih dari organisasi tersebut kepada para pelanggannya yang diperantarakan oleh barang atau jasa yang ditawarkannya.

Untuk membantu seseorang/suatu organisasi dalam merancang suatu business model, buku tersebut mengajukan apa yang disebut dengan business model canvas. Dalam kanvas ini, suatu business model akan memiliki sembilan komponen:
  1. CS: Customer Segments (=Para pelanggan)
  2. VP: Value Propositions (=Nilai tambah yang diberikan kepada para pelanggan)
  3. CH: Channels (=Medium untuk berhubungan dengan para pelanggan)
  4. CR: Customer Relationships (=Tipe hubungan yang ingin dijalin dengan para pelanggan)
  5. KR: Key Resources (=Sumber daya utama)
  6. KA: Key Activities (=Kegiatan utama)
  7. KP: Key Partners (=Mitra utama)
  8. C$: Cost Structure (=Struktur biaya)
  9. R$: Revenues (=Pendapatan)
Customer Segments (CS). Semua organisasi pasti memiliki pelanggan yang hendak dilayani. Misalnya CS untuk suatu usaha transportasi adalah para pemakai jasa transportasi tersebut, untuk suatu sekolah adalah para siswanya atau orang tua dari siswanya, dan untuk suatu dinas tenaga kerja di daerah adalah para pencari kerja di daerah tersebut.

Value propositions (VP). Nilai tambah apa yang akan diberikan kepada para pelanggan sehingga mereka mau memakai/mencoba/membeli penawaran dari organisasi tersebut. Misalnya VP untuk suatu usaha jasa transportasi adalah sebagai satu-satunya jasa yang bisa membawa seseorang dari lokasi A ke lokasi B, untuk suatu sekolah adalah untuk membuat para siswanya bisa berpikir secara kreatif dalam X bulan, dan untuk suatu dinas tenaga kerja adalah untuk mempercepat waktu untuk para pencari kerja mendapatkan pekerjaan baru.

Channels (CH). Bagaimana organisasi tersebut menginformasikan nila tambah ini kepada para calon pelanggannya. Misalnya CH untuk suatu usaha transportasi adalah dengan memasang berbagai poster ditempat-tempat penginapan, untuk suatu sekolah adalah dengan memberikan infomasi kepada para orang tua saat mereka mulai memilih jenjang sekolah berikutnya untuk anak-anak mereka, atau untuk suatu dinas tenaga kerja adalah dengan menyebarkan paket informasi kepada mahasiswa-mahasiswa yang mau lulus lewat lembaga tenaga kerja di peguruan tinggi-perguruan tinggi.

Customer Relations (CR). Saat seorang pelanggan telah didapatkan bagaimana hubungan dengannya dijalin. Misalnya CR untuk suatu usaha transportasi bisa dengan metode self-service dimana si pelanggan bisa mencari jadwal, memesan tiket, dan naik ke kedaraan secara mandiri tanpa bantuan seorang petugaspun; untuk suatu sekolah bisa dengan menyedikan penasihat khusus per siswa sehingga pendidikan yang si siswa dapatkan benar-benar disesuaikan dengan karakter siswa tersebut; dan untuk suatu dinas tenaga kerja bisa dengan menetapkan seseorang yang khusus menangani secara kolektif semua lulusan dari jurusan tertentu sehingga benar-benar bisa menyarankan industri mana atau perusahaan mana saja yang paling cocok bagi kelompok lulusan itu.

Key Resources (KR). Sumber daya-sumber daya utama apa saja yang perlu dimiliki oleh organisasi tersebut agar bisa memberikan nilai tambah ini dengan baik. Misalnya KR untuk suatu usaha transportasi adalah kendaraan serta supir yang akan mengendarai kendaraan tersebut, untuk suatu sekolah adalah para guru serta gedung untuk melakukan proses pengajaran, dan untuk dinas tenaga kerja adalah si pegawai yang mempunyai pengetahuan mendalam tentang pasar tenaga kerja yang sesuai untuk para lulusan yang ditanganinya.

Key Activities (KA). Kegiatan-kegiatan utama apa saja yang perlu dilakukan oleh organisasi tersebut agar bisa memberikan nilai tambah dengan baik. Misalnya KA untuk suatu usaha transportasi adalah pelatihan bagi para supir serta perawatan yang baik atas kendaraan-kendaraannya sehinga bisa memberikan perjalanan yang nyaman bagi para pelanggannya, untuk suatu usaha pendidikan adalah proses belajar mengajarnya serta proses pelaporan/konsultasi dengan orang tua murid akan kemajuan putra-putrinya, dan untuk suatu dinas tenaga kerja adalah secara aktif mencari lowongan pekerjaan baru diperusahaan-perusahaan atau diinstansi-instansi yang sesuai.

Key Partners (KP). Siapa-siapa saja mitra utama dari organisasi ini sehingga bisa membantunya sehingga dapat memberikan nilai tambah yang baik. Misalnya KP untuk suatu usaha transportasi adalah tempat-tempat penginapan sehingga mereka mau menginformasikan siapa-siapa saja pelanggan mereka yang hendak berpergian, untuk suatu sekolah adalah sekolah-sekolah lain yang lulusannya berpeluang untuk menjadi calon siswa barunya, dan untuk dinas tenaga kerja adalah perusahaan-perusahaan yang memiliki kebutuhan tenaga kerja baru sehingga mau memberitahukannya ke dinas tersebut.

Cost Structure (C$). Komponen-komponen biaya yang perlu dikeluarkan agar organisasi tersebut bisa berjalan untuk menghasilkan penawarannya. Ini pada dasarnya bisa diturunkan dari aspek KR, KA, dan KP.

Revenues (R$). Dari mana penghasilan organisasi tersebut sehingga bisa menutupi C$.

Dalam memakai kanvas ini, buku ini menganjurkan untuk membuat kanvas ukuran besar yang bisa dipasang didinding dimana semua pihak yang berkepentingan bisa melihat, mencoret, dan mendiskusikan business model tersebut secara bersama-sama. Berikut beberapa contoh hasil dari proses tersebut:




Saya akui penjelasan di atas masih sangat umum maka untuk lebih membumikannya, berikut beberapa contoh yang saya sendiri sedang pikirkan:
Perlu saya ulangi lagi, pada tahap ini, semua yang ada dalam business model masih bersifat asumsi! Kesemua asumsi-asumsi tersbeut perlu diuji apa benar atau tidak. Sehingga langkah berikutnya setelah adanya business model awal ini adalah untuk menguji masing-masing asumsi dalam business model tersebut dan memperbaikinya (dan juga memperbaiki usahanya) sesuai dengan pengetahuan baru yang saya dapatkan dari proses pengujian tersebut. Nah ini gimana lagi caranya? :)

Referensi

  1. Buku: Business Model Generation: A Handbook for Visionaries, Game Changers, and Challengers
  2. Business model canvas (versi PDF)
  3. Business model canvas (versi Google Docs)
  4. Blog Alexander Osterwalder: http://www.businessmodelalchemist.com